News

Mengenal Sotrovimab, Obat yang Disebut Ampuh Lawan Corona Varian Omicron

Mengenal Sotrovimab, Obat yang Disebut Ampuh Lawan Corona Varian Omicron
Ketut Nomer, pasien berusia 59 tahun yang menderita penyakit coronavirus (COVID-19), beristirahat ketika putranya yang berusia 28 tahun Gede Zico duduk merawatnya, di tenda sementara di luar bangsal darurat rumah sakit pemerintah di Bekasi, di pinggiran Jakarta, Indonesia, 25 Juni 2021. (Foto: REUTER

Jakarta - Obat Sotrovimab disebut ampuh melawan virus corona, termasuk varian Omicron. Obat yang dikembangkan oleh perusahaan GlaxoSmithKline (GSK) dan Vir Biotechnology telah resmi dapat digunakan untuk pengobatan Covid-19 di Inggris.

Obat ini disebut mampu mengurangi risiko gejala ringan berkembang menjadi gejala berat, mengurangi risiko rawat inap, dan kematian. Selain itu obat ini juga tampaknya mampu melawan varian baru Omicron

Pihak perusahaan GlaxoSmithKline (GSK) menambahkan bahwa dari data praklinis menunjukkan obat sotrovimab tampaknya efektif melawan varian baru Omicron. "Data praklinis menunjukkan obat tersebut mampu melawan mutasi kunci dari varian Covid-19 Omicron," kata GSK dalam sebuah pernyataan. 

Mengutip Kantor Berita AFP, Kamis, 2 Desember 2021, Sotrovimab adalah obat antibodi monoklonal, sejenis protein yang menempel pada protein spike virus corona, sehingga mampu mengurangi kemampuan protein spike untuk menempel dan menginfeksi sel tubuh manusia. 

Dosis tunggal obat sotrovimab mampu mengurangi risiko rawat inap dan kematian akibat Covid-19 hingga 79 persen pada orang dewasa. Dijelaskan oleh Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Zullies Ikawati, obat sotrovimab merupakan obat antibodi. Artinya, obat tersebut dikembangkan secara khusus agar menyerupai antibodi yang nantinya akan melawan virus corona, khususnya menyerang protein spike yang menjadi pintu masuk virus masuk ke sel tubuh. "Fungsinya sama seperti antibodi yang dihasilkan setelah terpapar Covid-19 atau dari vaksinasi yang memproduksi antibodi," jelas Zullies mengutip Kompas.com, Jumat, 3 Desember 2021. 

"Kalau antibodi yang dihasilkan setelah terpapar Covid-19 istilahnya tubuh yang memproduksi antibodi tersebut. Nah kalau obat antibodi (seperti sotrovimab), antibodinya diberikan dari luar tubuh, jadi lebih cepat." 

Hal ini sama seperti terapi plasma konvalesen yang bertujuan memberi antibodi kepada pasien Covid-19. Jika terapi plasma konvalesen memberikan plasma orang yang sembuh dari Covid-19, diharapkan antibodi dari plasma penyintas dapat menolong pasien Covid-19, obat sotrovimab juga diberikan untuk memberi antibodi melawan virus ke tubuh pasien. 

Bedanya, antibodi pada plasma konvalesen jumlahnya tidak tentu, sementara pada obat sotrovimab berapa kadarnya sudah jelas. Lihat Foto Logo perusahaan farmasi Inggris, GlaxoSmithKline (GSK), terpampang di pabriknya di Wavre pada 8 Februari 2021. 

Dalam penggunaannya, obat sotrovimab hanya ditujukan untuk orang positif Covid-19 dengan gejala ringan atau sedang, dan yang berisiko gejalanya memburuk. "Obat ini harus diberikan kepada yang mereka yang sudah pasti positif Covid-19, tapi bukan gejala berat. Sotrovimab diberikan untuk pasien gejala ringan hingga sedang yang memiliki risiko menjadi (bergejala) berat," kata Zullies. 

Orang bergejala ringan atau sedang, adalah mereka yang terpapar Covid-19 dan menunjukkan gejala hingga 10 hari. "Asal sudah muncul gejala dan positif Covid-19, itu bisa diberikan obat ini," katanya.

Dia menambahkan, obat ini tidak efektif jika diberikan untuk penderita Covid-19 bergejala berat karena kerja obat ini melawan virus, sementara pada orang yang bergejala berat apalagi sudah menggunakan bantuan oksigen tidak disarankan. 

"Obat ini tidak untuk mereka yang sudah menggunakan oksigen dan bergejala berat, karena enggak mempan dengan sotrovimab ini," katanya. "Bukan karena ada efek sampingnya, tapi ketika pasien Covid-19 sudah bergejala berat, kemungkinan besar sudah ada badai sitokin dan sebagainya. Padahal ini kerjanya untuk melawan virus. Kalau sudah gejala berat, jangan-jangan virusnya sudah banyak atau ada dampak seperti badai sitokin yang tidak bisa tercover dengan obat ini." []

Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Andi Nasution - 17 January 2022 | 20:04 WIB
Pemko Medan saat ini memiliki 20 ribuan dosis vaksin lanjutan (booster) yang akan diprioritaskan kepada lansia yang sudah dua kali disuntik vaksin.
News
Morteza Syariati Albanna - 17 January 2022 | 18:50 WIB
Kapolrestabes Medan Kombes Polisi Riko Sunarko beserta pejabat Polrestabes Medan lainnya terancam mendapat sanksi tegas jika terima suap narkoba.
News
Yohanes Charles - 17 January 2022 | 18:38 WIB
Jokowi menyempatkan diri untuk berbincang-bincang bersama para pedagang pasar yang mendapatkan bantuan.
News
Rio Anthony - 17 January 2022 | 18:34 WIB
Dua perampok rumah warga berinisial ZN dan IJF di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditangkap polisi.
News
Yohanes Charles - 17 January 2022 | 18:25 WIB
Terkait dengan pemberangkatan jamaah haji dari Kabupaten Cirebon, Imron mengaku masih menunggu keputusan dari pusat.
News
Morteza Syariati Albanna - 17 January 2022 | 18:24 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan berkemungkinan menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) ke Wali Kota Bekasi Pepen.
News
Morteza Syariati Albanna - 17 January 2022 | 18:17 WIB
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla mengatakan 11 konflik besar yang terjadi di Indonesia dan menelan ribuan nyawa karena ketidakadilan.
News
Morteza Syariati Albanna - 17 January 2022 | 17:56 WIB
Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka menanggapi pelaporan yang dilakukan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun terhadapnya ke KPK.
News
Morteza Syariati Albanna - 17 January 2022 | 17:43 WIB
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 memutuskan untuk meniadakan daftar 14 negara yang dilarang masuk ke Indonesia ditengah Omicron merajalela
News
Fernandho Pasaribu - 17 January 2022 | 17:41 WIB
BNN RI berhasil mengungkap kasus kejahatan narkotika dengan barang bukti sabu jaringan Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Riau.
Loading ...