News

Moeldoko: Kita Harus Memaafkan Aksi-aksi Terorisme

Moeldoko: Kita Harus Memaafkan Aksi-aksi Terorisme
Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko melepas maskernya ketika akan memberi keterangan pers di kediamannya kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (3/2). (Foto: M Risyal Hidayat/Antara Foto).

Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan bahwa terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran agama mana pun.

Saya sepakat kita harus memaafkan aksi-aksi terorisme. Tapi jangan pernah melupakan peristiwa tersebut agar kita selalu waspada

Demikian kata Moeldoko dalam sambutannya pada peluncuran Buku "The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot" dan Peringatan 19 Tahun Tragedi JW Marriot 2003, di Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2022.

Buku "The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot" ini ditulis oleh Sony Soemarno salah satu penyintas Bom JW Marriot, pada tahun 2003.

"Apa pun alasannya, semua ajaran agama menolak aksi teror. Jadi aksi terorisme tidak bisa berlindung di balik agama," kata Moeldoko meneruskan keterangan tertulisnya, Sabtu, 6 Agustus 2022.

Pada kesempatan tersebut, dia mengajak semua pihak untuk tetap mengingat aksi-aksi terorisme yang terjadi di Indonesia.

Menurutnya, hal itu sangat penting dilakukan agar terus terbangun kewaspadaan terhadap segala bentuk ancaman gangguan keamanan.

"Saya sepakat kita harus memaafkan aksi-aksi terorisme. Tapi jangan pernah melupakan peristiwa tersebut agar kita selalu waspada," ujarnya.

Moeldoko menyampaikan sejak peristiwa teror bom JW Marriot 2003, pemerintah telah mengadopsi pendekatan "Whole of Government" untuk melawan terorisme, mulai dari hulu dengan pendidikan hingga hilir melalui penindakan.

Secara regulasi, kata dia, pendekatan tersebut diperkuat dengan penerbitan UU Nomor 5/2018 dan Perpres No 7/2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstemisme Berbasis Kekerasan.

Merujuk kajian LAB45 pada 2021, dia menyebut tren serangan teror secara konsisten menurun sejak 2000. Nilai agregat pada Global Terrorism Index juga turun, dari angka 6,55 pada 2021 menjadi 5,5 pada 2022.

"Nilai lebih rendah, berarti lebih baik. Ini hasil kerja keras pemerintah dan semua pihak dalam melawan terorisme. Pemerintah tidak bekerja sendiri," tuturnya.

Moeldoko memastikan negara hadir untuk para korban aksi terorisme. Dia mencontohkan pembayaran kompensasi kepada 215 korban terorisme dan ahli waris dari 40 peristiwa terorisme masa lalu nilainya mencapai Rp 39 miliar.

"Kehadiran negara diharapkan dapat membawa semangat baru serta optimisme baru bagi korban dan keluarganya," kata dia.

Moeldoko menyampaikan harapan agar Buku "The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot" dapat menginspirasi semua pihak untuk berjuang bersama melawan terorisme.

"Saya berharap peluncuran buku ini (The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot), menjadi inspirasi kita semua untuk berjuang bersama melawan aksi terorisme," ucap Moeldoko.

Penulis Buku "The Power of Forgiveness: Memoar Korban Bom JW Marriot" Sony Soemarno menjelaskan proses penulisan hingga penerbitan buku memakan waktu panjang, yakni selama 15 tahun.

Buku tersebut berisi tentang testimoni korban, mantan pelaku aksi terorisme, dan perjalanan dirinya dalam melakukan program deradikalisasi dari satu lembaga pemasyarakatan ke lembaga lembaga pemasyarakatan lain.

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Loading ...