Opini

Politik Gagasan sebagai Wujud Pancasilais

Politik Gagasan sebagai Wujud Pancasilais
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Oleh: Sefnat Tagaku*

Pancasila merupakan dasar atau fondasi dari negara Indonesia. Selain itu, Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup bangsa ini. Namun kerap, Pancasila seolah dijadikan sebagai momentum biasa yang tidak lagi berdampak bagi kehidupan manusia di Indonesia. Mulai dari kehidupan berpolitik, berpendidikan, berbudaya, beragama, makna Pancasila kian pudar dari kehidupan bangsa ini.

Entah, kita lupa atau tidak lagi tahu tentang perjuangan panjang yang ditorehkan oleh para founding father bangsa dalam meletakan dasar negara ini. Nyatanya makna Pancasila yang diagung-agungkan itu kian hilang. Dalam kondisi yang semacam itu, maka perlu ruang-ruang diskursus terkait wawasan-wawasan kebangsaan mesti terus dihidupkan.

Catatan singkat ini berusaha untuk memberi sebuah pengingatan akan pentingnya kita memahami dan memaknai Pancasila, mulai dari historisnya hingga kini dalam kehidupan yang lebih modern. Karena bagi saya, tentang Pancasila tidak sekadar diingat jatuh tempo lahirnya, melainkan lebih dari itu adalah memahami, memaknai dan mempraktekan itu dalam keseharian sebagai warga Indonesia.

Akan tetapi, dalam tulisan ini saya lebih cenderung melihat nilai Pancasila dalam kehidupan politik hari ini di Indonesia, khususnya di bagian wilayah Utara Maluku. Karena itu, sebelum jauh menguraikan bagian-bagian penting yang menjadi subtansi dari tulisan ini, saya akan menyuguhkan sedikit gagasan founding fathers jauh sebelum Pancasila dicetuskan.

Selayang Pandang: Gagasan Melahirkan Pancasila Sebagai Dasar Negara

Gagasan tentang melahirkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah ditemukan sejak tahun 1918, oleh Bung Karno, sebagai salah satu pelaku sejarah pencetusan Pancasila dengan butir-butirnya. Hal ini dapat dilihat dari kelantangan pidato Bung Karno, pada 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya Pancasila (baca: Buku “Bung Karno Menggugat).

Hal itu berarti, jauh sebelum negara Indonesia merdeka, para founding fathers bangsa ini telah memikirkan bagaimana meletakan dasar negara kita. Dalam ceritanya Bung Karno, ia selalu menjumpai para masyarakat kelas kecil untuk mempelajari setiap dinamika bangsa, demi mampu merumuskan dasar negara Indonesia, yang kita kenal hari ini adalah Pancasila.

Dalam sidang BPUPKI tersebut, bung Karno menyampaikan kurang lebih ada lima butir sila, diantaranya; “Kebangsaan”, “Internasionalisme atau Prikemanusiaan”, “Demokrasi”, “Keadilan Sosial” dan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Butir-butir ini kemudian disempurnakan melalui panitia sembilan yang dibentuk pada sidang BPUPKI tersebut. Maka pada tanggal 18 Agustus 1945 pasca kemerdekaan Indonesia satu hari, Pancasila berhasil disahkan menjadi dasar negara.

Tentu untuk memperjuangkan Pancasila sebagai dasar negara sangatlah tidak mudah. Ada banyak dinamika yang menjadi tantangan besar melalui perdebatan-perdebatan internal. Namun dengan semangat kemerdekaan yang dilandaskan dengan jiwa nasionalis serta gagasan-gagasan brilian untuk membangun negara, Pancasila berhasil disahkan sebagai dasar, ideologi, dan juga sebagai falsafah kehidupan rakyat Indonesia.

Gagasan dan ide mewarnai sahnya Pancasila sebagai dasar negara. Tentu juga menempuh jalur politik, dengan membangun relasi, komunikasi, dan sebagainya dalam mensahkan Pancasila. Meski sulit namun berhasil. Begitulah pemikiran Soekarno saat menyampaikan pidatonya pada 1 Juni 1945, bahwa “setiap nilai yang baik dan berguna bagi Indonesia merdeka, merupakan buah dari perjuangan. Tidak ada satu pun pandangan hidup (weltanschauung) yang dapat menjadi kenyataan, jika tidak ada perjuangan”.

Memaknai Pancasila: Wujudkan Politik Gagasan Jelang Tahun 2024

Indonesia pada umumnya, secara khusus bagian wilayah Maluku Utara (Malut) akan menghadapi momentum politik di tahun 2024. Mulai dengan pemilihan presiden (Pilpres), pemilihan gubernur (Pilgub), pemilihan bupati dan Wali Kota (Pilbup/Pilwakot), hingga dengan pemilihan legislatif (Pileg). Semua momentum politik itu, akan dihelat pada tahun 2024.

Dalam menghadapi momentum politik tersebut, semua para kompetitor hendak bersiap diri untuk berada dalam medan perang. Sayangnya, kesiapan-kesiapan yang dilakukan justru melekat pada kebiasaan-kebiasaan kotor yang dilakukan. Semisalnya, bersiap diri dari segi finansial (money politics), mengkonsolidasi identitas baik suku maupun agama (identity politik), ketimbang gagasan untuk membangun suatu negara atau daerah.

Dalam wajah berpolitik yang semacam itu, akan menghilangkan semangat nasionalisme, persatuan, nilai kemanusiaan, serta keadilan sosial. Mengapa demikian? Jika money dan identity menjadi acuan bagi setiap kompetitor politik, maka akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang korup dan tidak adil dalam membangun daerah. Kesempatan bagi orang-orang yang memiliki potensi memimpin pun akan semakin tertutup (hak demokrasi), jika berasal dari etnis dan suku terkecil di suatu daerah.

Karena itu, dalam menghayati dan merayakan hari lahirnya Pancasila sebagai dasar, ideologi dan juga falsafah kehidupan bangsa, perlu pula direfleksikan tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sehingga mampu kita buktikan bahwa Pancasila benar-benar sebagai dasar yang kokoh dan kuat, dan juga sebagai bentuk komitmen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagaimana Pancasila diletakan sebagai dasar negara kita dengan mengedepankan gagasan dan ide untuk kemajuan Indonesia, begitu pula upaya yang harus kita lakukan dalam kehidupan berpolitik di negara ini. Politik gagasan tidak merujuk pada sebuah tampungan janji, namun memberi pemahaman dan pengetahuan bagi rakyat akan pentingnya menggunakan hak demokrasi tanpa di perjual-belikan.

Kiranya dengan momentum hari lahirnya Pancasila ini, kita semua disadarkan untuk memahami dan memaknai nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, sekaligus dalam membangun semangat untuk menghadapi momentum politik pada tahun 2024 nanti. Jadikan semangat para founding fathers bangsa ini yang telah meletakan dasar negara kita, sebagai wujud kita membangun peradaban politik ke arah yang lebih baik.

Selamat merayakan dan memaknai hari lahirnya Pancasila...!!!!

*Sefnat Tagaku, Pegiat Literasi Budaya Halmahera Selatan

Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Eno Dimedjo - 25 September 2022 | 2:31 WIB
FOKSI dan BSSN menggelar kuliah umum dengan tema Menjaga Ruang Siber di UIN Raden Mas Said Surakarta.
Loading ...