Opini

Selamat Tinggal Belajar Online?

Selamat Tinggal Belajar Online?
Rahmat Adil Riyadi, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Makassar (UNM). (Foto: Dok. Rahmat Adil Riyadi)

Oleh: Rahmat Adil Riyadi, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Negeri Makassar (UNM)

Tahun 2022 adalah tahun ketiga Covid-19 mewabah di seluruh dunia. Akibatnya, seluruh sendi-sendi kehidupan melemah. Tak pelak, semua pihak kerja keras menciptakan strategi-strategi baru untuk bertahan. Baik itu untuk memininalkan jumlah korban jiwa maupun untuk melanjutkan dinamika kehidupan yang masih bertahan.

Seluruh sendi-sendi kehidupan melemah, yang paling nyata adalah dunia perekonomian dan juga pendidikan. Tak terkecuali dunia pendidikan di Indonesia. Serangan Covid-19 jadi pukulan telak bagi sistem pendidikan di Indonesia. Sistem belajar online pun jadi alternatif di lembaga-lembaga pendidikan untuk membatasi interaksi guna mengurangi potensi penyebaran virus.

Baca juga: Surat Sahat Sinurat: Pancasila dan Negara Semua buat Semua

Benar adanya, bahwa belajar online adalah salah satu solusi tetapi efeknya pun tidak main-main. Karena itu akan menggerus esensi belajar mengajar yang mengedepankan interaksi untuk mengikat hubungan emosional antara guru dan siswa.

Aplikasi pendidikan karakter yang kita anut baru akan maksimal jika terjalin hubungan emosional itu. Semangat peserta didik untuk belajar bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bergotong royong, berkebhinnekaan global akan beda kadarnya jika dilayani dengan sistem belajar online atau secara daring dan offline atau tatap muka.

Belajar online, interaksi fisik antara guru dan siswa berkurang karena siswa hanya diberikan tugas melalui aplikasi whatsApp. Tidak ada penjelasan awal dari guru tentang tugas yang dibebankan sehingga siswa kesulitan dalam mengerjakan tugas.

Baca juga: Politik Gagasan sebagai Wujud Pancasilais

Selain itu, banyaka tugas yang diberikan guru padahal waktu yang diberikan sangat singkat. Akhirnya tidak sedikit siswa yang mengeluh dan tidak bersemangat lagi
dalam mengerjakan tugas. Otomatis, berkuranglah internalisasi nilai- nilai karakter yang semestinya ditanamkan seorang guru ke dalam diri siswa.

Ini akan mengakibatkan degradasi moral pada anak atau siswa. Karena tugas seorang guru bukan hanya mengajar atau semata-mata mentrasferkan ilmu pengetahuan pelajaran.

Tetapi seorang guru juga dituntut untuk mendidik, pembentukan akhlak dan karakter siswa sesuai amanah pendidikan karakter yang dianut Indonesia saat ini. Kemudian dalam penerapan belajar online itu juga, banyak siswa mengalami kesulitan belajar dipicu oleh beberapa faktor antara lain, bagi siswa yang belum memiliki gadget akan terkendala dalam pemanfaatan teknologi. Hal ini biasanya terjadi pada siswa tingkat TK dan SD.

Baca juga: Ulang Tahun Erick Thohir dan Kilas Balik Alasan Jokowi Memilihnya

Lalu masalah lainnya adalah jaringan yang tidak memadai utamanya bagi siswa yang berdiam di daerah terpencil. Hal ini merupakan tantangan besar bagi siswa dan tak terkecuali bagi orang tua karena orang tualah yang dituntut untuk mendampingi siswa dalam proses belajar online tersebut.

Realita yang ada juga saat ini, tidak sedikit orang tua yang kurang paham mengenai pemanfaatan teknologi. Jelas hal ini akan menghambat keaktifan siswa atau anak
dalam proses belajar online ini Namun, hal ini tidak boleh mematahkan semangat guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, tidak boleh mematahkan semangat siswa dalam belajar, pandemi covid ini tidak boleh mematahkan semangat dan harapan kita semua.

Tentunya kita sudah sangat geram dan mungkin jenuh melihat fenomena yang berlangsung sekarang ini, tetapi apalah daya kita dan mungkin sebagian dari kalian yang membaca tulisan ini hanyalah masyarakat penikmat kebijakan.

Baca juga: Indonesia, Pancasila, dan Jasa Peradaban Buya Syafii Maarif

Banyak ide maupun inspirasi yang telah disampaikan, disuarakan serta diaspirasikan namun hanya membuat para pembangkang dan pemberontak ketimpangan kecewa karena tidak didengarkan. Meluapkannya dalam tulisan jadi pilihan. Figur atau sosok yang punya peran penting dalam proses pembelajaran online atau tanpa tatap muka dan interaksi langsung yang ingin penulis tuangkan dalam tulisan ini adalah:

Peran Guru

Peran guru dituntut untuk berfikir kreatif, inovatif dalam memberikan pelajaran secara online sehingga anak-anak tidak mudah jenuh dalam menerima pembelajaran tersebut. Antara lain dengan cara menyisipkan games, joke. Lebih komunikatif agar siswa bisa menerima materi dengan baik.

Peran Siswa

Siswa dituntut untuk selalu mengikuti pelajaran online dan penyelesaian tugas-tugas yang diberikan dalam pembelajaran tersebut secara tuntas. Harus belajar keras secara virtual karena dialog interaktif antara guru dan siswa tidak semudah saat belajar secara tatap muka atau offline.

Baca juga: Raih Opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan Aplikasi SIMRS

Tingkat pemahaman anak atas materi yang diberikan tentulah berbeda beda, banyak yang tingkat pemahaman kurang karena ketidaksungguhan dalam proses pembelajaran.

Peran Pemerintah

Pendidikan adalah kunci keberhasilan sumber daya manusia suatu Negara. Olehnya peran pemerintah sangat penting dalam memberikan kualitas pendidikan kepada anak bangsa. Di tangan anak-anaklah ke depannya negara bisa menjadi maju.

Salah satu yang bisa dilakukan pemerintah adalah menyediakan fasilitas ponsel ataupun laptop kepada anak-anak yang orang tuanya kurang mampu, memberikan kuota kepada anak-anak sekolah dan menyalurkan dana lebih untuk kebutuhan pokok sehari-hari atas keluarga yang kurang mampu.

Baca juga: Surat Sahat Sinurat: Jokowi, Elon Musk, dan Masa Depan Kita

Orang tua kurang mampu ini, salah satunya bisa jadi akibat dari PHK imbas serangan Covid-19. Penyediaan fasilitas ini, pemerintah bisa berkolaborasi dengan pihak swasta melalui program CSR atau Corporate Social Responsibility.

Peran Orang tua

Sementara peran orangtua saat pembelajaran online sangat diperlukan oleh anak terutama pada anak-anak tingkat SD. Orang tua dituntut untuk dapat menjelaskan apa yang dijelaskan oleh guru, membantu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) anak. Peran penting orang tua lainnya yang sangat penting adalah sekuat tenaga menyediakan ponsel, laptop, internet, kuota dan lainnya untuk kelancaran proses belajar.

Sekuat tenaga karena tingkat ekonomi keluarga para siswa tidak semua sama pasca datangnya Covid-19. Ada yang korban PHK, pemotongan gaji dan penurunan penghasilan bagi pelaku UMKM dampak dari menurunnya daya beli masyarakat secara luas. Mungkin saja di tahun ketiga ini, daya serangan Covid-19 mulai menurun ditandai dengan keluarnya beberapa kebijakan baru terkecuali di daerah-daewrah tertentu.

Misalnya penggunaan masker sudah tidak begitu ketat, tempat-tempat umum mulai dibuka seperti mal dan bioskop, mudik telah diperkenankan dan tentunya yang paling penting adalah belajar offline atau tatap muka secara langsung sudah mulai berlaku.

Namun kita jangan lengah karena tidak menutup kemungkinan serangan-serangan sejenis Covid-19 kembali bertandang ke negeri ini. Di balik kesedihan seluruh belahan dunia ini, kita harus mampu mengambil hikmah dari pandemi Covid-19 ini.

Pandemi Covid-19 ini mungkin saja datang sebagai ujian untuk kita semua, apakah mampu mencerdaskan kehidupan bangsa walau dalam kondisi seperti ini atau tidak. Semoga goresan sederhana ini bermanfaat. []

Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Eno Dimedjo - 25 September 2022 | 2:31 WIB
FOKSI dan BSSN menggelar kuliah umum dengan tema Menjaga Ruang Siber di UIN Raden Mas Said Surakarta.
Loading ...