Netizen

Universe 25, Eksperimen Paling Mengerikan dalam Sejarah, Penciptaan Surga

Universe 25, Eksperimen Paling Mengerikan dalam Sejarah, Penciptaan Surga
Foto: id.quora.com

Ketika menulis ini aku tidak main-main. Manusia pernah mencoba untuk menciptakan surga. Suatu tempat yang terbebas dari rasa lapar. Rasa takut. Dan rasa lelah.

Hal yang sejak dahulu kala sangat-sangat diinginkan setiap insan manusia yang berpijak di bumi adalah terbebas dari rasa lapar yang menghantui dan bisa bersenang-senang seumur hidup mereka. Paling tidak, inilah deskripsi surga yang paling mungkin manusia ciptakan jika mereka kaya raya.

Terus, bagaimana jika seandainya hal itu bisa dimiliki oleh semua orang di planet ini? Bagaimana jika seandainya manusia tidak perlu lagi khawatir pada makanan, tempat tinggal, pendidikan, atau pekerjaan, sebab semua yang kita perlukan untuk hidup yakni makanan sudah tersedia kapan saja. Bagaimana seandainya jika tidak ada lagi para jones kesepian yang harus takut tidak bisa menikah. Sebab kenikmatan seks bisa dinikmati kapan saja, dengan siapapun, berapa kalipun, bebas. Ingin memiliki anak atau tidak memiliki anak, bebas. Bahkan, kamu tidak perlu lagi beribadah karena takut pada Tuhan. Karena pada dasarnya, kamu telah mencapai kebebasan yang sebenarnya. Terlepas dari namanya ATURAN.

Maka hirarki sosial seperti apa yang akan terbentuk? Lingkungan seperti apakah yang akan tercipta?Dan apakah menciptakan surga adalah benar-benar tujuan terbaik bagi manusia?

Untuk memahami jawaban dari pertanyaan itu, para peneliti kemudian dengan sangat lancang menyentuh ranah 'Tuhan' itu dengan melakukan eksperimen penciptaan Surga. Sebuah eksperimen yang di kemudian hari dikenal dengan nama Eksperimen Universe 25.

Pada tahun 1954 hingga 1972, seorang pengamat perilaku hewan bernama John Calhoun mulai melakukan eksperimen dengan apa yang ia sebut sebagai negeri utopia.

Dan apa subjek penelitiannya? Manusiakah?

Oh tenang. Kita sedang berupaya mensimulasikan keberadaan surga lewat diri makhluk berintelektual rendah. Jika makhluk semacam ini diberikan surga, apakah yang bisa terjadi. Maka pilihannya jatuh pada spesimen paling berjasa dalam dunia sains. Tikus.

John Calhoun yang memang sangat penasaran pada perilaku hewan itu mulai membangun gedung-gedung penuh makanan dan air bagi para tikus. Para tikus itupun juga dibersihkan sampai bebas dari kuman. Segala yang mereka perlukan sudah tersedia di dalam ruangan itu.

Hidup menjadi sangat indah bagi 4 pasang tikus jantan betina yang pertama kali dipersilahkan menikmati surga tersebut. Mereka tidak lagi mencuri makanan. Tidak lagi khawatir akan dibunuh atau dijebak. Suhu di dalamnya bahkan senantiasa dijaga dan disesuaikan demi kenyamanan para tikus. Karena mereka sudah tidak pusing perihal makanan dan sarang, alhasil mereka melakukan satu-satunya kegiatan menyenangkan yang pasti dilakukan setiap makhluk dewasa ketika dipasangkan. Kawin. Mereka kawin, kawin, dan kawin hingga berkembang biak berapa kalipun mereka mau. Itu benar-benar menjadi sebuah surga dunia bagi para tikus manapun di muka bumi.

Namun, semua mulai goyah saat para tikus mulai lupa diri. Jumlah mereka berkembang dua kali lipat setiap dua bulan. Dan sesuai dengan hukum eksponensial, populasi mereka melonjak dengan sangat drastis hanya dalam beberapa bulan selanjutnya.

Universe 25Foto: id.quora.com

Tikus-tikus ini pada dasarnya tidak kekurangan apapun tidak peduli berapa banyak jumlah mereka. Jumlah makanan yang disediakan tetap tidak terbatas. Ketersediaan air berlimpah. Dan lagi mereka tidak perlu mengkhawatirkan kehadiran pemangsa. Hanya ada satu kekurangan yang tidak bisa dipenuhi oleh John Calhoun pada tikus-tikus yang sudah membludak ini. Ia tidak bisa memberikan penambahan ruang bagi para tikus tersebut. Karena sama halnya dengan manusia, tidak peduli jadi sekaya apa seseorang, luas tanah di bumi tidak akan pernah berubah menjadi lebih luas apabila telah mencapai over populasi.

Begitupun halnya para tikus ini. Surga bagi mereka di dunia ini akan tetap ada. Tapi urusan populasi dan ruang adalah masalah mereka.

Setelah hari ke-315, perkembangan populasi yang awalnya melonjak menjadi kian perlahan. Rupanya, para tikus itu mulai menyadari bahwa ruang mereka hidup menjadi semakin sempit.

Para tikus jantan dewasa yang awalnya bersikap seperti pemimpin mulai kehilangan otoritasnya karena ketiadaan wilayah kekuasaan. Semua tikus memahami bahwa mereka memiliki hak yang sama pada tempat tersebut, hingga akhirnya para tikuspun memutuskan sudah tidak diperlukan lagi otoritas pemimpin. Semua wilayah adalah milik bersama. Pada akhirnya aturan yang membimbing kehidupan tikus secara sosial mulai runtuh. Mereka menjadi makhluk yang egois yang hanya peduli pada diri mereka sendiri. Hal ini membuat para tikus semakin tidak percaya pada sesama mereka.

Universe 25Foto: id.quora.com

Tikus-tikus yang lemah dan dianggap jelek dari kawanan tikus lainnya mulai membentuk kelompok sendiri-sendiri. Kawanan tikus yang gagah dan cantik-cantik pun juga mulai membentuk kawanan mereka sendiri. Mereka mulai saling memisahkan diri antara satu dengan yang lain hanya dari tampang.

Segala serangan tanpa tujuan menjadi marak terjadi di dalam surga tersebut. Tikus-tikus bisa saling menyerang apabila merasa tidak suka pada tikus yang lain. Dan hal ini terus-menerus terjadi hingga menimbulkan banyak korban jiwa. Baik yang tampan, cantik, ataupun jelek saling bermusuhan tanpa sebab yang jelas.

Untuk tikus-tikus yang sebelumnya berkeluarga, para pejantan menjadi terlalu bebas sehingga tidak peduli pada para betina yang sudah mereka kawini. Betina-betina yang lemah dan tanpa dukungan terpaksa mengalah dan menerima nasib mereka dipakai dan dipakai berulang kali. Penyiksaan demi penyiksaan pun semakin terfokus pada tikus-tikus lemah dan tidak memiliki kelompok kuat. Mereka disudutkan, didiskriminasi, dan disakiti di tempat yang seharusnya menjadi surga bagi siapapun.

Karena hal ini, para tikus-tikus betina menjadi stress. Mereka sadar mereka tidak bisa melawan yang kuat, maka target merekapun beralih pada tikus terlemah di dalam kelompok. Anak-anak mereka sendiri. Kebencian mereka pada ketidakadilan teralihkan pada anak-anak yang tidak berdosa itu. Mereka menyiksanya.

Hal ini tentu semakin menurunkan tingkat populasi tikus itu secara menyeluruh. Sangat sedikit tikus-tikus muda yang mencapai tahap dewasa apalagi semakin sedikit tikus-tikus yang mau peduli.

Universe 25Foto: id.quora.com

Para tikus betina pun yang menyadari kengerian ini akhirnya mulai banyak menyendiri. Mereka sering terlihat sedang merenung di atas gedung sendirian seakan ingin mengakhiri hidup. Agresivitas mereka meningkat dan menjauhi kelompok apapun. Mereka semakin tidak percaya pada para pejantan. Dan menolak keras untuk dikawini. Mereka memilih menjadi single abadi. Tak lama kemudian, muncullah generasi tikus-tikus jantan yang cantik-cantik selayaknya para betina.

Dari sanalah muncul ketimpangan moral bagi para tikus yang seharusnya tidak terjadi. Mereka mulai berhubungan sesama jenisnya sendiri demi memenuhi kebutuhan hasrat yang mulai tidak terkendali antara satu dengan yang lain.

Para tikus yang walau bagaimanapun tetap terpenuhi kebutuhan perutnya, mengalihkan hasrat kekerasan mereka pada seks. Terutama untuk generasi muda tikus itu, mereka akhirnya kecanduan pada hubungan badan sehingga menjadi hyper sex yang parah bahkan pada sesama jenisnya sendiri.

Yang parahnya lagi, mereka membawa satu kebiasaan baru. Yakni kanibalisme. Akibat banyaknya tingkat kematian dari hari ke hari maka tak heran upaya untuk mencicipi daging sesamanya sendiri mulai tercetus. Mereka mulai penasaran pada daging rasnya sendiri dan akhirnya mulai terbentuk golongan kanibalisme. Mereka yang merasa bosan dengan makanan yang sudah ada sehingga mengalihkan kebosanan itu pada pembunuhan bayi-bayi tikus untuk dimakan.

Universe 25Foto: id.quora.com

Pada hari ke-560, jumlah tikus yang telah menyentuh angka 2200 ekor semakin jatuh. Keganasan tak terhentikan semakin menjadi-jadi. Korban pembunuhan bergelimpangan. Praktek LGBT meningkat dan menurunkan tingkat populasi secara drastis.

Bahkan setelah tingkat kematian menyentuh angka 100% sekalipun yang mana membuat wilayah tersebut kian merenggang. Keganasan para tikus tetap tidak berkurang. Tidak ada penguasa yang dilantik. Aturan ditiadakan secara mutlak. Lingkungan menjadi tidak aman bagi siapapun. Yang kuat secara fisik semakin berjaya. Dan yang lemah tinggal menunggu matinya saja.

Universe 25Foto: id.quora.com

Surga dunia itu rupanya telah berubah menjadi ladang neraka. Negeri utopia itu telah menjelma menjadi wadah paling mengerikan bagi tikus manapun yang hidup di bumi. Karena hanya yang paling kuat dan paling egois yang akan tetap hidup.

Dua tahun setelah percobaan ini dilakukan, tikus terakhir akhirnya dilahirkan. Dan sejak saat itu juga populasi tikus Universe 25 kian meredup, meredup, hingga akhirnya padam seluruhnya setelah tikus yang masih bernafas terakhir meninggal dunia.

Mereka punah, binasa, hilang, dan hancur berkat kelakuan diri mereka sendiri.

Eksperimen inipun tidak hanya dilakukan sekali. Tapi John Calhoun mengulanginya sebanyak 25 kali yang menjadi dasar penyebutan Eksperimen Universe 25 ini. Dan dari percobaan pertama hingga terakhir. Semua hasilnya berakhir pada satu kesimpulan yang sama. Kemusnahan total tanpa ampun.

Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah semua murni karena sempitnya wilayah? Lalu bagaimana kita menjelaskan dengan keganasan yang masih terjadi setelah wilayah mereka semakin longgar?

Kalau saya boleh menjabarkannya untuk bisa related dengan kehidupan kita.

Jawabannya mungkin terletak pada tujuan yang dihilangkan dari hidup tikus-tikus ini.

Tujuan yang menjadi kompas kehidupan mereka menghilang sepenuhnya. Hingga banyak tikus-tikus yang tidak tahu harus berbuat apa dalam kehidupannya itu akhirnya memilih menjadi tidak terkontrol. Tujuan itu menghilang bukan karena tidak ada. Tapi karena tujuan itu telah terpenuhi tanpa adanya usaha. Mereka tanpa sadar telah kehilangan makna dari keberadaan mereka sendiri. Hidup hanya untuk makan, tidur, ngeseks, dan terus seperti itu tanpa akhir dengan diiringi wilayah kebebasan yang semakin berkurang karena diambil oleh orang lain. Pada akhirnya ketidakpuasan itu menjadi pemicunya.

Universe 25Foto: id.quora.com

Banyak dari kita hingga saat ini merasakan hidup dalam kekangan yang menyulitkan. Merasa dipaksa hidup dalam aturan yang membelit segala seluk beluk kehidupan kita. Sampai kita lupa bahwa keberadaan kekangan ini justru menciptakan tujuan dalam hidup ini. Untuk bisa bebas dengan usaha kita sendiri. Dan mari kita mengambil sedikit pelajaran dari Universe 25 ini.

Kita sangat beruntung terlahir sebagi manusia. Kita memiliki kecerdasan yang kompleks sehingga bisa menciptakan tatanan hidup yang harmonis antara satu individu dengan individu lainnya. Tentunya ini sangat jauh berbeda dengan tatanan hidup para tikus yang diatur oleh sistem sesederhana ketua dan anggotanya. Kita memiliki UU, moral, dan kebijaksanaan yang membimbing kita agar tidak terjerembab oleh kekacauan meski tanpa pimpinan.

Namun, Apakah hal serupa akan terjadi pada manusia andai kita ditempatkan pada situasi yang sama?

Makanan yang senantiasa terpenuhi. Tempat tinggal yang nyaman. Dan kebutuhan seks kapan saja kita mau.

Pada kenyataannya kita masih jauh hingga bisa mencapai kondisi yang sama dengan para tikus itu. Kebutuhan kita masih berbeda-beda antara satu atap dengan atap lainnya. Kemakmuran kita sama sekali tidak merata. Kesulitan masih kerap membelenggu kita. Sehingga untuk mencapai negeri utopia tersebut sampai kini masih terbilang mustahil. Bahkan negeri kaya seperti Qatar pun tidak lepas dari kesenjangan sosial di dalamnya. Setiap negara masih memiliki orang susah di dalam mereka.

Tapi, ini bukan jaminan kita tidak akan mencapai tahap kehancuran yang sama seperti Universe 25. Kenyataannya, manusia juga sedang mengalami tahap kemunduran seperti yang dialami dengan Universe 25 itu.

Perilaku LGBT yang semakin dianggap wajar. Kelompok feminis garis keras yang semakin menolak keberadaan pria. Maraknya kekerasan pada wanita. Adanya diskriminasi. Kebencian tanpa sebab. Meningkatnya hubungan seks bebas. Kaum yang menuntut kebebasan dan menolak keberadaan aturan yang dipaksakan pada mereka.

Dan yang terparah, kaum yang tidak menginginkan adanya Tuhan atau agama. Bukan menolak agama ya, tapi tidak menginginkan adanya agama.

Hewan sesederhana tikus saja menjadi hancur, rusak, dan musnah dengan sendirinya setelah segala kekangan dalam hidup mereka dimusnahkan tidak peduli senyaman apa hidup mereka sebenarnya. Hal ini karena satu hal mendasar yang tidak dimiliki para tikus. Tujuan mutlak dalam hidup. Dan letak tujuan mutlak itu terletak pada adanya kepercayaan atau Agama. Hal inilah yang membedakan kita dengan tikus-tikus itu selain kecerdasan.

Lalu bagaimana dengan manusia andai segala agama itu juga ditiadakan? Padahal banyak manusia yang justru hidup berdasarkan aturan agamanya.

Aturan tidak membunuh, tidak memperkosa, mencuri, berbohong, menyakiti orang lain, dan sebagainya. Apa jadinya jika manusia hidup tanpa diiringi kepercayaan atau agama pada entitas paling berkuasa ini?

Dunia tanpa agama mungkin sekilas terdengar seperti negeri ideal bagi manusia yang ingin hidup hanya berdasarkan aturannya dan bebas dari belenggu berketuhanan. Tapi bagaimana dengan nasib negara yang tidak memiliki hukum dan aturan yang kuat di negeri mereka? Sebuah negeri yang tidak diatur oleh pemimpin kuat nan berkharisma. Negeri yang sebatas mematuhi norma karena masih memandang adanya agama yang mereka percaya.

Agama pada dasarnya menyediakan tata hidup, tujuan, serta aturan yang mesti dilaksanakan secara mutlak. Keberadaan agama hakikatnya membangun kesadaran mandiri pada setiap manusia bahwa mereka akan bertanggungjawab pada diri mereka sendiri akibat perbuatan mereka. Dan hal itu akan mereka bayar di hadapan Tuhan mereka sendiri. Dengan atau tanpa hukum dari manusia. Hal inilah yang tidak dimiliki para tikus Universe 25. Kepercayaan adanya hari pembalasan dari sifat buruk kita bisa mencegah kita menjadi monster tanpa logika.

Karena manusia mengenal aspek agama inilah, yang menjadi alasan kuat kita akan bisa terhindar dari kehancuran total seperti para tikus ini. Dunia mungkin di masa depan, di suatu saat nanti bisa saja akan menjadi seperti negeri utopia. Tapi selama kita bisa mempertahankan nilai kemanusiaan yang ditanamkan di dalam hati lewat adanya keyakinan ini. Maka rasanya mustahil kita menyentuh ranah primitif hingga memakan spesies sendiri.

Tentu saja kita tidak sedang membicarakan agama yang membolehkan terorisme, kekerasan, ataupun kerusakan dalam bentuk apapun. Saya sedang membicarakan agama yang menjunjung cinta dan kedamaian yang diyakini sebagai jalan terbaik menuju keseimbangan spiritual dan emosional.

Ketika agama atau kepercayaan semacam ini sudah hancur dan hilang sepenuhnya. Saat itu jugalah satu-satunya palang pintu terakhir pembatas perilaku manusia selain norma hilang dari dunia.

Bagaimana pendapat kalian? Apakah menciptakan surga dunia masih menjadi impian atau justru meminimalisir kehancuranlah yang seharusnya kita fokuskan untuk menciptakan Utopia sebenarnya?

Penulis: Andika Pratama

Artikel ini telah terbit di id.quora.com


Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Eno Dimedjo - 16 October 2021 | 23:04 WIB
Komisaris Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) milik PT. Mon Jambee, H. Subarni, menjamin tidak akan ada permainan harga beli sawit.
News
Eno Dimedjo - 16 October 2021 | 20:29 WIB
Musisi Fariz RM menyapa penggemarnya di tengah pandemi Covid-19 lewat konser musik bertajuk Sound From Dehills an Intimate Concert of Fariz RM.
News
Eno Dimedjo - 16 October 2021 | 20:14 WIB
Akmal Ibrahim terlihat semringah sepanjang kegiatan peresmian PKS di Abdya.
News
Fernandho Pasaribu - 16 October 2021 | 19:46 WIB
Ketua DPP PKS Bidang Ekonomi dan Keuangan, Anis Byarwati menyambut baik instruksi Presiden Jokowi menindak tegas perusahaan pinjol.
News
Fernandho Pasaribu - 16 October 2021 | 19:12 WIB
Anggota Komisi I DPR, Sukamta meminta OJK menghapus pemberian akses IMEI kepada perusahaan pinjaman online.
News
Morteza Syariati Albanna - 16 October 2021 | 17:55 WIB
Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tenaga non PNS di lingkungan pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), akan disanksi apabila tak mau divaksin.
News
Fahzian Aldevan - 16 October 2021 | 17:48 WIB
Mantan ajudan Terdakwa Nurdin Abdullah mengaku uang 200.000 dolar Singapura dari kontraktor diterima langsung Nurdin
News
Morteza Syariati Albanna - 16 October 2021 | 17:43 WIB
Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin, yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ternyata memiliki total kekayaan Rp38,4 miliar.
News
Eno Dimedjo - 16 October 2021 | 14:41 WIB
Sebanyak sebelas siswa MTs Harapan Baru ditemukan dalam keadaan tewas usai hanyut di Sungai Cileueur Leuwi.
News
Morteza Syariati Albanna - 16 October 2021 | 14:29 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Musi Banyuasin (Muba) Dodi Reza Alex Noerdin bersama lima orang lainnya
Loading ...